Tuesday, July 5, 2011

JULI : TANABATA FESTIVAL (FESTIVAL BINTANG)

Tanabata atau Festival Bintang adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim di Jepang, Tiongkok, dan Korea. Perayaan besar-besaran dilakukan di kota-kota di Jepang, termasuk di antaranya kota Sendai dengan festival Sendai Tanabata. Di Tiongkok, perayaan ini disebut Qi Xi.
Tanggal festival Tanabata dulunya mengikuti kalender lunisolar yang kira-kira sebulan lebih lambat daripada kalender Gregorian. Sejak kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang, perayaan Tanabata diadakan malam tanggal 7 Juli, hari ke-7 bulan ke-7 kalender lunisolar, atau sebulan lebih lambat sekitar tanggal 8 Agustus.
Aksara kanji yang digunakan untuk menulis Tanabata bisa dibaca sebagai shichiseki malam ke-7. Di zaman dulu, perayaan ini juga ditulis dengan aksara kanji yang berbeda, tapi tetap dibaca Tanabata . Tradisi perayaan berasal dari Tiongkok yang diperkenalkan di Jepang pada zaman Nara.

Tanggal perayaan

Di zaman kuno Tiongkok terdapat tradisi merayakan pergantian musim di bulan ke-7 hari ke-7 menurut kalender Tionghoa (bulan ke-7 merupakan bulan pertama di musim gugur). Alasan dan sejak kapan hari ke-7 bulan ke-7 mulai dijadikan hari istimewa tidak diketahui dengan pasti. Literatur tertua yang menceritakan peristiwa di hari tersebut adalah Simin yueling almanak petani karya Cui Shi yang menulis tentang tradisi menjemur atau mengangin-anginkan buku di bawah sinar matahari.
Menurut kalender yang pernah digunakan di Jepang seperti kalender Tempo, Tanabata dirayakan pada hari ke-7 bulan ke-7 sebelum perayaan Obon. Setelah kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang, Tanabata dirayakan pada 7 Juli, sedangkan sebagian upacara dilakukan di malam hari tanggal 6 Juli. Di wilayah Jepang sebelah timur seperti Hokkaido dan Sendai, perayaan dilakukan sebulan lebih lambat sekitar 8 Agustus.
Sejarah
Tanabata diperkirakan merupakan sinkretisme antara tradisi Jepang kuno mendoakan arwah leluhur atas keberhasilan panen dan perayaan Qi Qiao Jie asal Tiongkok yang mendoakan kemahiran wanita dalam menenun. Pada awalnya Tanabata merupakan bagian dari perayaan Obon, tapi kemudian dijadikan perayaan terpisah. Daun bambu (sasa) digunakan sebagai hiasan dalam perayaan karena dipercaya sebagai tempat tinggal arwah leluhur.
Legenda Qi Xi pertama kali disebut dalam literatur Gushi shijiu shou (19 puisi lama) asal Dinasti Han yang dikumpulkan kitab antologi Wen Xuan . Selain itu, Qi Xi juga tertulis dalam kitab Jing-Chu suishi ji ( festival dan tradisi tahunan wilayah Jing-Chu) dari zaman Dinasti Utara dan Selatan, dan kitab Catatan Sejarah Agung. Literatur Jing-Chu suishi ji mengisahkan para wanita memasukkan benang berwarna-warni indah ke lubang 7 batang jarum pada malam hari ke-7 bulan ke-7 yang merupakan malam bertemunya Qian Niu dan Zhi Nu, dan persembahan diletakkan berjajar di halaman untuk memohon kepandaian dalam pekerjaan menenun.
Legenda asli Jepang tentang Tanabatatsume dalam kitab Kojiki mengisahkan seorang pelayan wanita (miko) bernama Tanabatatsume yang harus menenun pakaian untuk dewa di tepi sungai, dan menunggu di rumah menenun untuk dijadikan istri semalam sang dewa agar desa terhindar dari bencana. Perayaan Qi Xi dihubungkan dengan legenda Tanabatatsume, dan nama perayaan diubah menjadi "Tanabata". Di zaman Nara, perayaan Tanabata dijadikan salah satu perayaan di istana kaisar yang berhubungan dengan musim. Di dalam kitab antologi puisi waka berjudul Man'yōshū terdapat puisi tentang Tanabata karya Ōtomo no Yakamochi dari zaman Nara. Setelah perayaan Tanabata meluas ke kalangan rakyat biasa di zaman Edo, tema perayaan bergeser dari pekerjaan tenun menenun menjadi kepandaian anak perempuan dalam berbagai keterampilan sebagai persiapan sebelum menikah.




Legenda
Legenda Tanabata di Jepang dan Tiongkok mengisahkan bintang Vega yang merupakan bintang tercerah dalam rasi bintang Lyra sebagai Orihime (Shokujo), putri Raja Langit yang pandai menenun. Bintang Altair yang berada di rasi bintang Aquila dikisahkan sebagai sebagai penggembala sapi bernama Hikoboshi (Kengyū). Hikoboshi rajin bekerja sehingga diizinkan Raja Langit untuk menikahi Orihime. Suami istri Hikoboshi dan Orihime hidup bahagia, tapi Orihime tidak lagi menenun dan Hikoboshi tidak lagi menggembala. Raja Langit sangat marah dan keduanya dipaksa berpisah. Orihime dan Hikoboshi tinggal dipisahkan sungai Amanogawa (galaksi Bima Sakti) dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali di malam hari ke-7 bulan ke-7. Kalau kebetulan hujan turun, sungai Amanogawa menjadi meluap dan Orihime tidak bisa menyeberangi sungai untuk bertemu suami. Sekawanan burung kasasagi terbang menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang sedang bersedih dan berbaris membentuk jembatan yang melintasi sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa menyeberang dan bertemu.
Literatur klasik tentang legenda Tanabata melahirkan berbagai macam variasi cerita rakyat di berbagai daerah di Tiongkok. Di beberapa tempat, variasi legenda Tanabata dijadikan naskah sandiwara dan diangkat sebagai naskah Opera Tiongkok. Di antara naskah-naskah yang terkenal seperti Tian he pei dipentaskan sebagai Opera Beijing. Kisahnya tentang penggembala sapi bernama Niulang yang mencuri pakaian salah seorang bidadari bernama Zhinu yang sedang mandi. Niulang menikah dengan Zhinu sampai pada akhirnya bidadari Zhinu harus kembali ke langit. Niulang mengejar Zhinu sampai naik ke langit, tapi ibu Zhinu yang bernama Xi Wangmu (dewi surga) memisahkan tempat tinggal Niulang dan Zhinu dengan sebuah sungai. Cerita ini mirip dengan cerita rakyat Jepang yang berjudul Hagoromo.
Bintang bernama Zhinu dan bintang bernama Niulang pertama kali disebut dalam kitab Shi Jing (kira-kira terbitan 1000 SM), tapi tidak secara pasti menunjuk ke bintang yang spesifik. Dalam kitab Catatan Sejarah Agung asal Dinasti Han Barat, bintang Niulang menunjuk ke rasi bintang lembu dan bintang Zhinu menunjuk ke rasi bintang Kawatsusumi. Sesuai dengan perkembangan legenda Tanabata, bintang Niulang (Hikoboshi) akhirnya menunjuk ke bintang Altair.

Tradisi
Perayaan dilakukan di malam ke-6 bulan ke-7, atau pagi di hari ke-7 bulan ke-7. Sebagian besar upacara dimulai setelah tengah malam (pukul 1 pagi) di hari ke-7 bulan ke-7. Di tengah malam bintang-bintang naik mendekati zenith, dan merupakan saat bintang Altair, bintang Vega, dan galaksi Bima Sakti paling mudah dilihat.
Kemungkinan hari cerah pada hari ke-7 bulan ke-7 kalender Tionghoa lebih besar daripada 7 Juli yang masih merupakan musim panas. Hujan yang turun di malam Tanabata disebut Sairuiu , dan konon berasal dari air mata Orihime dan Hikoboshi yang menangis karena tidak bisa bertemu.
Festival Tanabata dimeriahkan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku atau secarik kertas berwarna-warni. Tradisi ini khas Jepang dan sudah ada sejak zaman Edo. Kertas tanzaku terdiri dari 5 warna (hijau, merah, kuning, putih, dan hitam). Di Tiongkok, tali untuk mengikat terdiri dari 5 warna dan bukan kertasnya. Permohonan yang dituliskan pada tanzaku bisa bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang menulis.
Kertas-kertas tanzaku yang berisi berbagai macam permohonan diikatkan di ranting daun bambu membentuk pohon harapan di hari ke-6 bulan ke-7. Orang yang kebetulan tinggal di dekat laut mempunyai tradisi melarung pohon harapan ke laut sebagai tanda puncak perayaan, tapi kebiasaan ini sekarang makin ditinggalkan orang karena hiasan banyak yang terbuat dari plastik.
Pada saat Tanabata biasanya akan dinyanyikan lagu seperti ini:
Sasano wa sara sara (Sasano* mengalir dengan lancar)
Nokiba ni yureru (Ujungnya bergoyang goyang)
Ohoshisama kira kira (Bintang berkelap kelip)
Kin gin sunago (Bertaburan bagai emas perak)
Goshiki no tanzaku (Berwarna warni harapan dan doa)
Watashi ga kaita (Yang aku tulis)
Ohoshisama kira kira (Bintang berkelap kelip)
Sora kara miteru (Dilihat dari langit)







*Sasano = Perahu yang terbuat dari lipatan daun bambu*




Sendai Tanabata









Perayaan di berbagai daerah
Tanabata dirayakan secara besar-besaran di berbagai kota, seperti: Sendai, Hiratsuka, Anjo, dan Sagamihara. Perayaan dimulai setelah Perang Dunia II dengan maksud untuk menggairahkan ekonomi, terutama di wilayah Jepang bagian utara.
Di zaman dulu, Sendai sering berkali-kali dilanda kekurangan pangan akibat kekeringan dan musim dingin yang terlalu dingin. Di kalangan penduduk lahir tradisi menulis permohonan di atas secarik kertas tanzaku untuk meminta dijauhkan dari bencana alam. Date Masamune menggunakan perayaan Tanabata untuk memajukan pendidikan bagi kaum wanita, dan hiasan daun bambu mulai terlihat di rumah tinggal kalangan samurai dan penduduk kota. Di zaman Meiji dan zaman Taisho, perayaan dilangsungkan secara kecil-kecilan hingga penyelenggaraan diambil alih pusat perbelanjaan di tahun 1927. Pusat perbelanjaan memasang hiasan Tanabata secara besar-besaran, dan tradisi ini berlanjut hingga sekarang sebagai Sendai Tanabata.








2006-07_Japan_110



sumber: dari berbagai sumber

Sunday, June 19, 2011

partisispasi JLCC di acara JECUF (Japan Education and Culture Fair)

Buat rekan rekan yang ingin bertanya tentang JLCC dan sekolah ke Jepang silahkan datang dan hadirilah dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Sastra Jepang S1 Universitas Padjadjaran Bandung di stand kami.
Informasi bentuk kegiatan Japan Education & Culutre Fair (JECUF) sebagai berikut :


  1. Olimpiade Bahasa Jepang SMA dan Universitas tingkat Nasional

  2. Seminar Nasional Pendidikan tentang sistem pendidikan yang ada di Jepang

  3. Pameran Pendidikan Nasional Universitas Jepang dan Universitas di Indonesia yang membuka Jurursan Sastra Jepang.

  4. Kongres HIMA Sastra/Bahasa Jepang se Indonesia (dalam rangka pembentukan Ikatan HIMA Sastra Jepang se - Indonesia).

Waktu pelaksanaan


1. Olimpiade Bahasa Jepang akan dilaksanakan pada :


Tanggal : 20-23 Juni 2011


Waktu : 08.00 s.d Selesai


Tempat Pusat Studi Bahasa Jepang UNPAD, Jatinangor, Sumedang.



2. Seminiar Pendidikan Jepang akan dilaksanakan pada


Tanggal :24 Juni 2011


Waktu 08.00 s.d 16.00 wib


Tempat Aula PSBJ UNPAD Sumedang



3. Pameran Pendidikan Jepang akan dilaksanakan ada tanggal 23 Juni 2011


Tanggal : 23 Juni 2011


Waktu : 19.00 s.d selesai


Tempat : Pusat Studi Bahasa Jepang , Sumedang



4. Kongres HIMA Sastra/Bahasa Jepang se Indonesia akan dilaksanakan pada :


Tanggal 2324 Juni 2011


Waktu : 19.00 s.d selesai


Tempat : Aula PSBJ UNPAD Sumedang.


Pembahasan Kegiatan


1. Olimpiade Pendidikan Jepang merupakan ajang bagi mahasiswa dan siswa SMA untuk menunjukan kemampuan dan mengembangkan kreatifitas di bidang pendidikan Jepang dan Olimpiade ini akan diadakan selama 4 hari, adapun dibawah ini merupakan olimpiade yang akan dipertandingkan :



  • Speech Contest

  • Kanji Contest

  • Rodoku Contest

  • Sakubun Contest

  • Kana Contest

  • Monogatari Contest

  • Cerdas Cermat Jepang

  • Shuuji Contest

  • Haiku

  • Nihongo Noryokushiken

  • Essai Contest

  • Karya tulis Ilmiah

2. Seminar nasional pendidikan Jepang yang merupakan rangkaian dari acara Japan Education & Culture Fair ini mempunyai tema tentang "Budaya Tradisional Jepang dan peranannya dalam era Modern". Kegiatan seminar ini akan mengundang permakalah yang dikumpulkan dari setiap draft yang dikirimkan oleh masing masing peserta seminar. Peserta seminar yang dimaksud ialah untuk kegiatan mahasiswa.


3. Pameran pendidikan Jepang ini dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan dari setiap orang yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai lembaga pendidikan di Jepang maupun di Indonesia yang berkaitan dengan tema Ke -Jepangan. Dalam kegiatan ini akan diundang beberpa universitas dari Jepang maupun lembaga pendidikan bahasa Jepang serta universitas di Indonesia dan lembaga pembelajaran bahasa Jepang yang ada di Indonesia. Kegiatan ini juga akan mengundang perwakilan Universitas yang memiliki Jurusan Sastra/Bahasa Jepang di universitasnya.


4. Kongres Himpunan Mahasiswa Sastra/Bahasa Jepang se-Indonesia diadakan dalam rangka menjembatani dan memadukan setiap informasi ataupun kegiatan yang diadakan di masing-masing universitas. Kegiatan dilanjutkan juga dengan rencana sidang pembentukan Ikatan Himpunan Mahasiswa Sastra / Bahas Jepang se-Indonesia dna pembentukan agenda folow up kegiatan Ikatan Himpunan Mahasiswa Sastra/Bahasa Jepang.


ditunggu yah kehadirannya ........

Monday, June 6, 2011

Kesan Siswa Manabi asal dari Indonesia

Wulan adalah salah satu siswa MANABI periode April 2011 yang di berangkatkan oleh JLCC Education Consultant


inilah kesan yang di ungkapkan oleh wulan sebagai berikut


Bulan 3 lalu terjadi Tsunami di Jepang, saya sangat terkejut dengan bencana tersebut. Sebelum terjadi Tsunami saya berencana untuk berangkat ke Jepang bulan 3, tapi dikarenakan ada bencana ini saya berangkat bulan 4 lalu. Saya sangat prihatin atas musibah yang menimpa negeri sakura ini. Keluarga di Indonesia sangat khawatir ketika saya akan berangkat ke Jepang karena di berita keadaan Jepang saat itu masih genting sekali. Tetapi saya tetap nekad berangkat ke Jepang. Dan setibanya di Jepang Alhamdulillah semuanya baik-baik saja dan tidak seburuk yang dibayangkan ketika masih di Indonesia. Meskipun waktu awal-awal saya tiba di Jepang masih sangat sering terjadi gempa, tapi tidak sampai menimbulkan hal fatal. Saya selalu berdoa semoga keadaan Jepang cepat pulih seperti biasanya.
Bulan April tanggal 11 lalu, saya mulai belajar di MANABI. Awalnya saya sangat tegang ketika masuk sekolah ini karena saya tau disini banyak murid dari berbagai negara dan saya khawatir tidak bisa berkomunikasi dengan mereka. Tetapi setelah berkenalan dengan teman-teman disini ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan. Kekhawatiran saya hilang dan berubah menjadi menyenangkan. Dan guru-guru di sekolah inipun sangat baik dan cara mengajarnyapun sangat mudah dimengerti. Hari demi hari saya lalui di sekolah ini dan suasananyapun makin menyenangkan. Semangat belajarpun makin tinggi karena disini bersaing dengan orang-orang dari berbagai Negara yang sama-sama ingin lancar berbahasa Jepang. Saya berusaha semaksimal mungkin belajar bahasa Jepang disini karena saya ingin melanjutkan kuliah di salah satu Universitas di Tokyo dan saya juga tidak ingin mengecewakan orang tua saya yang sudah membiayai saya sekolah disini. Oleh karena itu saya akan terus semangat dan berusaha semaksimal mungkin sekolah disini.


untuk selengkapnya silahkan klik di tautan di bawah ini:


http://www.facebook.com/manabitokyo?sk=wall#!/notes/manabi%E5%A4%96%E8%AA%9E%E5%AD%A6%E9%99%A2-%E6%9D%B1%E4%BA%AC%E6%A0%A1-manabi-japanese-language-institute-tokyo/wulan%E3%81%95%E3%82%93%E3%82%A4%E3%83%B3%E3%83%89%E3%83%8D%E3%82%B7%E3%82%A2%E3%81%AE%E3%82%B3%E3%83%A1%E3%83%B3%E3%83%88/204559672920539

Wednesday, May 11, 2011

Short Summer Program 4 Juli - 2 Agustus 211

Bagi mereka yang menginginkan Program Summer Course di Jepang

Silahkan bergabung bersama MANABI

SUMMER Short Program MANABI Japanese Language Institute Nagano School menyelenggarakan program belajar jangka pendek 1 bulan ( summer Course ) dengan belajar Bahasa Jepang yang menyenangkan dan efektif serta mendapatkan berbagai macam pengalaman budaya yang menyenangkan di Jepang


Untuk infomasi lebih lengkap mengenai kegiatan ini silahkan menghubungi
JLCC
Jl. Sabang No 19 Bandung
Contact Person : Ibu Neneng
Telp 022 -4201745
E-mail : jeco19@indosat.net.id

Program Summer Course bisa di lihat di bawah ini :

Monday, May 2, 2011

Hari Anak-anak (Kodomo no HI) tanggal 5 Mei

Di Jepang , Koinobori (umbul-umbul berbentuk ikan) ini dikibarkan setiap tanggal 5 mei untuk merayakan hari anak laki-laki sebagai simbol harapan akan kesehatan dan kemakmuran.
Kebiasaan ini berawal dair pertengahan zaman Edo (1600-1868). Umbul-umbul ini dibuat berdasarkan legenda Cina tentang ikan koi (karper) yang berenang ke atas melawan arus dan menjadi naga. Ikan koi menjadi simbol kesuksesan di Jepang.

Kodomo no HI atau hari anak-anak dirayakan setaip tahunnya pada tanggal 5 mei. Perayaan Kodomo no Hi adalah salah satu dari perayaan tradisional di Jepang. Perayaan yang di kenal dengan nama Tan-go no Sekku ini diperuntukan bagi anak laki-laki (catatan: perayaan untuk anak perempuan, Hinamatsuri dirayakan 3 maret) sejak tahun 1948, tanggal 5 mei dijadikan hari libur nasional dan ditetapkan sebagai hari ank-anak , walaupun hingga saat ini , masih dirayakan sebagai perayaan bagi anak laki-laki.
Pada hari ini, keluarga yang memili anak laki-laki akan memasang koinonori di pekarangan,serta memajang simbol-simbol ksatria, yaitu kbuto (topi perang baja) dan Yozoi (zirah) atuu gogatsu-ningyo (boneka simbol ksatia perang). Adapun gagasan di blaik itu adalah diharapkan anak laki-laki tersebut menjadi manusia yang gagah dan kuat, terhindar dari segala marabahaya karena terlindungi oleh yoroi dan kabuto, serta senantiasa dianugerahi kebahagiaan dalam kehidupan kelak.

Festival Tradisional Selama Bulan Mei - Juli

Matsuri, demikianlah orang Jepang menyebutnya festival yang sering diadakan di berbagai tempat. Pada mulanya matsuri diselengarakan oleh kuil Shinto dan kelompok dalam masyarakat. Merupakan kesempatan khusus etka para dewa Shinto mengunjungi rakyat untuk berkomunikasi dengan mereka. Rakyat memohon kemakmuran, panen yang berlimpah, Kesejahteraan, dan lain-lain. Kepada para dewa. Ada pula matsuri yang dirayakan untuk mengusir roh-roh jahat penyebab penyakit dan bencana alam.

Bulan Mei merupakan bulan terakhir dari musim semi sedangkan bulan juni adalah awal dari musim panas dan bulan Juli adalah musim panas. Selama ketiga bulan ini beraneka festival berlangung secara mar, baik festival yang bersifat nasional maupun festival khusu khas suatu daerah.

Festival Daerah (beberapa festival utama)

Berikut ini beberapa festival yang sudah dikenal secara luas di Jepang.


Hakata Dontaku Matsuri yang berlangsung di Fukuoka (Pulau Shikoku) berupa pareade penduduk berpakaian kuno berwarna-warni, disertai iringan musik. Peristiwa sekali setahun ini menarik lebih kurang 2 juta pengunjung dan penonton.


Kanda Matsrui diselenggarakan di kuil Kanda Myoji yang terdapat di Tokyo. Daerah Kanda di masa lampau (zaman Edo 1600 -1868) merpakan pusat komersial sekaligus daerah pemukiman, Konon orang yang dilahirkan di distrik Kanda dianggap sebagai 'anak Edo asli' (Edo adalah nama Tokyo di masa lalu).

Festival ini berlangsung dalam bulan Mei, berupa parade kuil-kuil kecil yang diarak beramai-ramai dengan dipanggul, serta dengan teriakan-teriakan penuh semangat.


Yabusame Matsuri , berlangsung tgl 4-6 Mei. Demonstrasi yabusame, yaitu seni memanah sambil berpacu naik kuda.


Aoi Matsuri tgl 15 Mei di Kuil Kamigamo, Kyoto Brupa parade yang anggun dan bersuasana formal : 500 orang berpakaian pembesar istana zaman Heian, serangkaian ritual Shinto, tari dan musik. Konon sejarahnya sudah 1000 thau, mungkin merupakan festival yang paling tuan di dunia.


Sanja Matsuri, tangal 16 -18 Mei, diadakan di distrik Asakusa, Tokyo. Merupakan salah satu dari parade 0 -mikoshi (kuil kecil yang dibawa dengan dipanggul beramai-ramai) terbesar di Jepang. Parade meliputi lebih kurang 100 o-mikoshi, diramikan dengan para geisya, dan lain-lain . Kabarnya setiap tahun lebih kuran 2 juta penonton.


Chagu-Chagu Umakko Matsuri (Festival Kuda) di Morioka, berupa parade kuda hias yang berjalan beriringan menuju Kuil Hachimangu. Berlangsung pada hari Sabtu kedua bulan Juni


Sano Matsuri di Kuil Hie (Tokyo), arak-arakan o -mikoshi, kendaraan hias penari, penyanyi dna pemusik tradisional melalui jalan-jalan ramai diseputar Kuil Hie.


Tanabata Matsuri

Disebut juga sebagai Gestival Bintang , Dirayakan pada malam tanggal 7 Juli.

Festival ini didasarkan pada sebuah legenda tentang dua bintang, yaitu Vega dan Altairyang dipisahkan gugus bintang Bimasakti. Konon para dewa menghukum keduanya yang sedang jatuh cinta karena sang bintang Altair melalaikan tugasnya melakukan pekerjaan menenun. Satu-satunya kesempatan mereka bisa bertemu adalah pada malam tanggal 7 Juli.

Pada Kesempatan festival in, pusat pusat perbelanjaan ramai dihiasi dengan umbul umbul berwarna-warni yang menjulang panjang. Di Rumah-rumah dan di berbagai tempat (kantor,sekolah dan lain-lain) dipasang batang-batang bambu lengkap dengan dahan dan daun-daunnya di mana digantungkan carikan kertas berisi tulisan yang berisi harapan dan keinginan.



sumber : berbagai sumber

Monday, March 21, 2011

SAY YES to GAMBARU !

Say YES to GAMBARU!

Artikel yang sangat bagus

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama) , motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru. Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya...berhenti aja.

Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : "doko made mo nintai shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan) Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan "mengencangkan" . Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu" (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun saya di jepang, dua tahun juga saya ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan saya ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!). Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it's a must!

Saya bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Saya tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di Aceh, Nias dan sekitarnya, gempa bumi di Padang , letusan gunung merapi....juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi.

Tapi, tsunami dan gempa bumi di Jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia. Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain. Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa "dimaafkan" jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan.

Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan. Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, Saya nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV. Jadi yang ada apaan dong? Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :

1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada

2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)

3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana

4. Tips-tips menghadapi bencana alam

5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam

6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana

7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)

8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati

9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :

*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)

*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini; Gelap sekali di Sendai , lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, Saya bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu.

Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup. Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. Hanya, mental yang apa-apa "nyalahin" Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang... ..I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, Saya rasa bangsa kita ngga akan bisa maju.

Kalau ditilik lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa Saya menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau. Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya Jepang ini. Toh sama-sama asia , negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga akan bisa survive di sini.

Sampai sempat nyesal juga,kenapa saya ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris atau sastra barat lainnya. Tapi sekarang, saya bisa bilang dengan yakin sama sanak keluarga yang menyatakan ngga ada gunanya saya nuntut ilmu di jepang. Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu. Benar, sastra Jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja.

Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah ngga ada jalan, saya rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu adalah di jepang. Dan saya bersyukur ada di sini, saat ini. Maka, mulai hari ini, jika saya mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu,saya tidak akan lagi merasa muak jiwa raga.

Sebaliknya, saya akan berucap dengan rendah hati : Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia . Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang).

sumber: n n

Sekilas JLCC


BIaya kursus JLCC 2009

PROGRAM STUDI DI JLCC

Dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat, JLCC menyelenggarakan :

Kelas Reguler
Tingkat Dasar 1 (Shokyu Nihongo 1)
Tingkat Dasar 2 (Shokyu Nihongo 2)
Tingkat Dasar 3 (Shokyu Nihongo 3)
Tingkat Dasar 4 (Shokyu Nihongo 4)

Keterangan
setiap tingkat ditempuh dalam waktu 4 bulan
Jumlah pertemuan 1 minggu 2 x 90 menit
minimal 10 peserta / kelas

Kelas Lanjutan
Tingkat Lanjutan 1 (Chukyu Nihongo 1)
Tingkat Lanjutan 2 (Chukyu Nihongo 2)
Tingkat Lanjutan 3 (Chukyu Nihongo 3)

Keterangan
setiap tingkat ditempuh dalam waktu 4 bulan
jumlah peremuan 1 minggu 2 x 90 menit
Minimal 10 peserta / kelas

Kelas Intensive
Materi pengajaran, biaya pendaftaran & biaya Kursus kelas Intensive ini pada dasarnya sama dengan kelas reguler, hanya waktu pelaksanaan dipadatkan menjadi 2 bulan dengan jumlah pertemuna 4 x 1 minggu, masing masing pertemuan 90 menit

Kelas Percakapan (KAIWA)
Percakapan Dasar (KAIWA 1)
Percakapan Lanjutan (KAIWA 2)
Percakapan Lanjutan (KAIWA 3)

Keterangan
Setiap tingkat ditempuh dalam waktu 4 bulan
Jumlah pertemuan 1 mingu 2 x 90 menit
Minimal 5 peserta/kelas

Kelas Percakapan ini diperuntukan bagai siswa yang minimal sudah menyelesaikan Tingkat Dasar 3 (Shokyu Nihongo 3) atau setara dengan itu.

Selain paket paket program tersebut di atas, JLCC juga menyediakan beberapa paket lain seperti Kelas Private, Kelas Bahasa Indonesia untuk orang Jepang, menerima penerjemahan, menyediakan tenaga Interpreter dan lain lain.

Peta Lokasi JLCC

Peta Lokasi JLCC
JLCC Jl. Sabang No 19 Bandung

Japanese tea ceremony demo

Staff Pengajar JLCC

Staff Pengajar JLCC
Berdiri mulai dari kiri: Ade S Sensei, Herdis Sensei, Jonjon J Sensei, Yuyu Sensei, Sudjianto Sensei Duduk mulai dari kiri : Sisca Sensei, Halina Sensei , Aliawati Sensei, Miyanaga Sensei, Nina Sensei

Berdiri dari kiri ke kanan : Aliawati Sensei, Mariko Sensei, Halina Sensei, Nina Sensei, Sisca Sensei Duduk dari Kiri ke Kanan : Ade S Sensei, Yuyu Sensei, Jonjon J Sensei