Monday, May 2, 2011

Festival Tradisional Selama Bulan Mei - Juli

Matsuri, demikianlah orang Jepang menyebutnya festival yang sering diadakan di berbagai tempat. Pada mulanya matsuri diselengarakan oleh kuil Shinto dan kelompok dalam masyarakat. Merupakan kesempatan khusus etka para dewa Shinto mengunjungi rakyat untuk berkomunikasi dengan mereka. Rakyat memohon kemakmuran, panen yang berlimpah, Kesejahteraan, dan lain-lain. Kepada para dewa. Ada pula matsuri yang dirayakan untuk mengusir roh-roh jahat penyebab penyakit dan bencana alam.

Bulan Mei merupakan bulan terakhir dari musim semi sedangkan bulan juni adalah awal dari musim panas dan bulan Juli adalah musim panas. Selama ketiga bulan ini beraneka festival berlangung secara mar, baik festival yang bersifat nasional maupun festival khusu khas suatu daerah.

Festival Daerah (beberapa festival utama)

Berikut ini beberapa festival yang sudah dikenal secara luas di Jepang.


Hakata Dontaku Matsuri yang berlangsung di Fukuoka (Pulau Shikoku) berupa pareade penduduk berpakaian kuno berwarna-warni, disertai iringan musik. Peristiwa sekali setahun ini menarik lebih kurang 2 juta pengunjung dan penonton.


Kanda Matsrui diselenggarakan di kuil Kanda Myoji yang terdapat di Tokyo. Daerah Kanda di masa lampau (zaman Edo 1600 -1868) merpakan pusat komersial sekaligus daerah pemukiman, Konon orang yang dilahirkan di distrik Kanda dianggap sebagai 'anak Edo asli' (Edo adalah nama Tokyo di masa lalu).

Festival ini berlangsung dalam bulan Mei, berupa parade kuil-kuil kecil yang diarak beramai-ramai dengan dipanggul, serta dengan teriakan-teriakan penuh semangat.


Yabusame Matsuri , berlangsung tgl 4-6 Mei. Demonstrasi yabusame, yaitu seni memanah sambil berpacu naik kuda.


Aoi Matsuri tgl 15 Mei di Kuil Kamigamo, Kyoto Brupa parade yang anggun dan bersuasana formal : 500 orang berpakaian pembesar istana zaman Heian, serangkaian ritual Shinto, tari dan musik. Konon sejarahnya sudah 1000 thau, mungkin merupakan festival yang paling tuan di dunia.


Sanja Matsuri, tangal 16 -18 Mei, diadakan di distrik Asakusa, Tokyo. Merupakan salah satu dari parade 0 -mikoshi (kuil kecil yang dibawa dengan dipanggul beramai-ramai) terbesar di Jepang. Parade meliputi lebih kurang 100 o-mikoshi, diramikan dengan para geisya, dan lain-lain . Kabarnya setiap tahun lebih kuran 2 juta penonton.


Chagu-Chagu Umakko Matsuri (Festival Kuda) di Morioka, berupa parade kuda hias yang berjalan beriringan menuju Kuil Hachimangu. Berlangsung pada hari Sabtu kedua bulan Juni


Sano Matsuri di Kuil Hie (Tokyo), arak-arakan o -mikoshi, kendaraan hias penari, penyanyi dna pemusik tradisional melalui jalan-jalan ramai diseputar Kuil Hie.


Tanabata Matsuri

Disebut juga sebagai Gestival Bintang , Dirayakan pada malam tanggal 7 Juli.

Festival ini didasarkan pada sebuah legenda tentang dua bintang, yaitu Vega dan Altairyang dipisahkan gugus bintang Bimasakti. Konon para dewa menghukum keduanya yang sedang jatuh cinta karena sang bintang Altair melalaikan tugasnya melakukan pekerjaan menenun. Satu-satunya kesempatan mereka bisa bertemu adalah pada malam tanggal 7 Juli.

Pada Kesempatan festival in, pusat pusat perbelanjaan ramai dihiasi dengan umbul umbul berwarna-warni yang menjulang panjang. Di Rumah-rumah dan di berbagai tempat (kantor,sekolah dan lain-lain) dipasang batang-batang bambu lengkap dengan dahan dan daun-daunnya di mana digantungkan carikan kertas berisi tulisan yang berisi harapan dan keinginan.



sumber : berbagai sumber

Monday, March 21, 2011

SAY YES to GAMBARU !

Say YES to GAMBARU!

Artikel yang sangat bagus

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama) , motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru. Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya...berhenti aja.

Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : "doko made mo nintai shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan) Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan "mengencangkan" . Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu" (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun saya di jepang, dua tahun juga saya ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri. Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan saya ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!). Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it's a must!

Saya bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Saya tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di Aceh, Nias dan sekitarnya, gempa bumi di Padang , letusan gunung merapi....juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi.

Tapi, tsunami dan gempa bumi di Jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia. Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain. Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa "dimaafkan" jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan.

Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan. Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, Saya nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV. Jadi yang ada apaan dong? Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :

1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada

2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)

3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana

4. Tips-tips menghadapi bencana alam

5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam

6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana

7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)

8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati

9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :

*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)

*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini; Gelap sekali di Sendai , lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, Saya bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu.

Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup. Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. Hanya, mental yang apa-apa "nyalahin" Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang... ..I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, Saya rasa bangsa kita ngga akan bisa maju.

Kalau ditilik lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa Saya menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau. Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya Jepang ini. Toh sama-sama asia , negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga akan bisa survive di sini.

Sampai sempat nyesal juga,kenapa saya ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris atau sastra barat lainnya. Tapi sekarang, saya bisa bilang dengan yakin sama sanak keluarga yang menyatakan ngga ada gunanya saya nuntut ilmu di jepang. Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu. Benar, sastra Jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja.

Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah ngga ada jalan, saya rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu adalah di jepang. Dan saya bersyukur ada di sini, saat ini. Maka, mulai hari ini, jika saya mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu,saya tidak akan lagi merasa muak jiwa raga.

Sebaliknya, saya akan berucap dengan rendah hati : Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. (Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia . Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang).

sumber: n n

Sunday, March 13, 2011

Pray for Japan

Teriring salam dan doa bagi warga Jepang yang tertimpa musibah semoga Tuhan memberikan Ketabahan dan Kesabaran atas kejadian Musibah Tsunami Maret 2011.

ini adalah artikel foto mengenai foto beberapa tempat di jepang sebelum dan setelah diterjang Tsunami. pemukiman penduduk yang banyak terdapat di sepanjang bibir pantai. tetapi kesiapan mereka sudah disiapkan oleh semua pihak. di luar kondisi yang rusak nampaknya kita harus lebih banyak belajar mengenai kesiapsiagaan bencana di Indonesia yang notabene merupakan negara dengan resiko bencana tinggi.
http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.abc.net.au%2Fnews%2Fevents%2Fjapan-quake-2011%2Fbeforeafter.htm&h=99c64fKeCBOGBz99uuzhSz5Kaiw

Video saat saat terjadinya tusnami maret 2011
http://www.youtube.com/watch?v=7uCZ3D3FZDk

Friday, March 4, 2011

Pengambilan Certificate Japanese Language Proficiency

Kepada rekan rekan yang telah mengikuti ujian JLPT yang diselenggarakan pada Desember 2010, dan mendaftarkannya di JLCC , Jl. Sabang 19 Bandung
Hasil Ujian atau certificate Japanese Language Proficiency sudah bisa di ambil dari hari senin s/d Jumat dari mulai jam 08.00 - 17.00 wib. mulai tanggal 7 Maret 2011

Silahkan menghubungi :
Bp. Dede & Bp. Fuad
tlp : 022-4201745

Monday, February 28, 2011

HINAMATSURI 雛祭り


Hinamatsuri 雛祭り 

Hinamatsuri yang juga dikenal sebagai festival boneka atau festival anak perempuan di rayakan setiap tangal 3 maret di Jepang. Ritual selamatan ini ditujukan bagi anak perempuan. Biasanya, keluarga yang memiliki anak perempuan akan memajang satu set boneka yang disebut hinaningyo ( 雛人形 ,boneka festival)

Satu set boneka terdiri dari boneka kaisar, permaisuri, puteri istana (dayang-dayang), dan pemusik istana yang menggambarkan upacara perkawinan tradisional di Jepang. Pakaian yang dikenakan boneka adalah kimono gaya zaman Heian. Perayaan ini sering disebut Festival Boneka atau Festival Anak Perempuan karena berawal permainan boneka di kalangan putri bangsawan yang disebut hiina asobi (bermain boneka puteri).

Ritual hinamatsuri ini menjadi acara keluarga di rumah, dan hanya dirayakan keluarga yang meiliki anak perempuan. Boneka-boneka akan dipajang seblum hari selamatan tiba dan sesudahnya, boneka arus segera disimpan karena dipercaya telah menyerap roh-roh jahat dan akan membawa nasib sial.


SUSUNAN BONEKA

Boneka diletakkan di atas panggung bertingkat yang disebut dankazari (tangga untuk memajang). Jumlah anak tangga pada dankazari ditentukan berdasarkan jumlah boneka yang ada. Masing-masing boneka diletakkan pada posisi yang sudah ditentukan berdasarkan tradisi turun temurun. Panggung dankazari diberi alas selimut tebal berwarna merah yang disebut hi-mōsen.
Satu set boneka biasanya dilengkapi dengan miniatur tirai lipat(byōbu) berwarna emas untuk dipasang sebagai latar belakang. Di sisi kiri dan kanan diletakkan sepasang miniatur lampion(bombori). Perlengkapan lain berupa miniatur pohon sakura dan pohon tachibana, potongan dahan bunga persik sebagai hiasan.


Tangga teratas
Dua boneka yang melambangkan kaisar (o-dairi-sama) dan permaisuri (o-hina-sama) diletakkan di tangga paling atas. Dalam bahasa Jepang, dairi berarti "istana kaisar", dan hina berarti "sang putri" atau "anak perempuan". Wilayah Kansai dan Kanto memiliki urutan kanan-kiri yang berbeda dalam penempatan boneka kaisar dan permaisuri, namun susunan boneka di setiap anak tangga berikutnya selalu sama.

Tangga kedua
Tiga boneka puteri istana (san-nin kanjo) diletakkan di tangga kedua. Ketiga puteri istana membawa peralatan minum sake. Boneka puteri istana yang paling tengah membawa mangkuk sake (sakazuki) yang diletakkan di atas sampō. Dua boneka puteri istana yang lain membawa poci sake (kuwae no chōshi), dan wadah sake yang disebut (nagae no chōshi). Gigi salah satu boneka puteri istana dihitamkan (ohaguro) dan alisnya dicukur habis. Dalam boneka versi Kyoto, puteri istana yang paling tengah dari Kyoto membawa shimadai (hiasan tanda kebahagiaan dari daun pinus, daun bambu, dan bunga ume).

Tangga ketiga
Lima boneka pemusik pria (go-nin bayashi) berada di tangga ketiga. Empat musisi masing-masing membawa alat musik, kecuali penyanyi yang membawa kipas lipat. Alat musik yang dibawa masing-masing pemusik adalah taiko, ōkawa, kotsuzumi, dan seruling.

Tangga keempat
Dua boneka menteri (daijin) yang terdiri dari Menteri Kanan (Udaijin) dan Menteri Kiri (Sadaijin) berada di tangga ke-4. Boneka Menteri Kanan digambarkan masih muda, sedangkan boneka Menteri Kiri tampak jauh lebih tua. Dari sudut pandang pengamat, Menteri Kanan berada di sebelah kiri, sedangkan Menteri Kiri berada di sebelah kanan.

Tangga kelima
Pada tangga kelima diletakkan tiga boneka pesuruh pria (shichō). Ketiganya masing-masing membawa bungkusan berisi topi (daigasa) yang dibawa dengan sebilah tongkat, sepatu yang diletakkan di atas sebuah nampan, dan payung panjang dalam keadaan tertutup. Dalam boneka versi lain, pesuruh pria membawa penggaruk dari bambu (kumade) dan sapu.Selanjutnya, kereta sapi dan berbagai miniatur mebel yang dijadikan hadiah pernikahan diletakkan di atas tangga-tangga di bawahnya


Tuesday, January 18, 2011

Edu Fair 2011










JLCC (Japanese Language & Culture Centre ) dan JECO (JLCC Education Consultant) Bandung berpartisipasi pada kegiatan “Education Fair 2011″ yang diselenggarakan oleh SMA Negeri 5 Bandung pada hari Kamis, 20 Januari 2011 mulai pukul 08:00 – 15:30 WIB bertempat di SMA Negeri 5 Bandung, Jalan Belitung No.8 Bandung, 40113.
Event Education Fair 2011 adalah wahana pertemuan antara perguruan tinggi dengan para siswa SMA untuk membantu para siswa memahami dan mengenal program studi yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya masing-masing, sebagai suatu bentuk kerjasama antara SMA Negeri 5 Bandung dengan sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta baik di dalam negeri maupun luar negeri, dan untuk mengetahui berbagai jenis program studi di setiap perguruan tinggi serta prospek kerja yang tersedia.
JLCC dan JECO yang bekerjasama dengan MANABI Japanese Language Institute hadir untuk memberikan informasi kursus Bahasa Jepang di Bandung dan sekolah Bahasa Jepang di Jepang dan melanjutkan sekolah ke Lembaga Pendidikan Tinggi dan Universitas di Jepang .





Wednesday, December 8, 2010

IKEBANA

Tidak ada yang tahu dari mana Ikebana berasal, tetapi diperkirakan ia masuk ke Jepang bersamaan dengan masuknya agama Buddha. Namun demikian ada juga kalangan yang mengatakan bahwa Ikebana suda ada di Jepang sebelum agama Buddha berkembang di sana, saat masyarakat Jepang masih menggunakan bunga dan tumbuhan segar untuk menghormati dewa penguasa alam, hal yang kelak menjadi inti dari ajaran Ikebana. Apapun kebenaran teori ini kedekatan hubungan masyarakat Jepang dengan alam jelas terlihat dalam tulisan-tulisan seputar Jepang di masa awal.

Rangkaian Ikebana diketahu sudah mulai tampak di masa Muromachi (akhir abad 14-pertengahan abad 16). Di masa tersebut, berbagai hal lahir dan dipandang sebagai seni tradisional Jepang dengan pakem-pakem keindahan tersendiri. Gaya shoin pada arsitektur tempat tinggal , upacara minum teh, Ikebana, pertunjukan Noh, desain taman dan puisi berirama yang semua berawal di masa Muromachi.

Namun demikian seluruhnya ini bukan budaya pop spontan. Daimyo dan shogun, penguasa feodal dan para jendral memberikan tanggung jawab dan teknik estetika kepada para doboshu(kelompok seniman). Beberapa doboshu berkonsentarasi pada kegiatan merangkai bunga serta melahirkan sebuah gaya dasar, yakni dahan yang berdiri di tengah vas dan dikenal dengan istilah tatebana. Sejak itu mulai bermunculan para master perangkai bunga. Ikenobo Senkei, seorang pendeta di Rokkakudo, Kyoto adalah seorang tokoh yang paling berpengaruh. Gaya Tatebananya dikembangkandan disebarluaskan oleh Ikenobo Senno dan Ikenobo Sen'e, diatara kelas samurai dan aristokratnya seiring dengan perkembangan seni upacara minum teh yang membutuhkan keseriusan. Sejak periode Azuchi Momoyama hingga periode Edo, Ikebana merupakan seni hidup yang berubah sesuai waktu di sisi baik maupun buruknya.

Pada periode Edo, Ikebana diwujudkan dalam bentuk yang paling serius, Senno Rikkyu mengaplikasikan Tatebana yang menjadi gaya Ikenobo dalam Chabana (rangkaian bunga sederhana untuk ruang teh)yang melompat dari kelas tentara samurai warior ke kelas pedagang dan masyakarat kota dan merubahnamanya menjadi Rikka. Namun pada perkembanganya, semangat kreatifitas Rikka semakin pudar dan efek geometrisnya hilang dalam dekoratif, menjadi simbol gaya berkelas Seika atau Shoka. Seika didasarkan pada struktur kerja tria-ngular, ten-chi-jin, jo-ha-kyu atau sin-gyo-so; yang merupakan cara berbeda dari ungkapan surga bumi manusia. Banyak sekolah baru dibuka untuk mengajarkan gaya baru Seika dan sistem lemoto pun dimulai.

Seiring dengan periode modernisasi Meiji, Ikebana turut dimanfaatkan. Pemerintah Meiji, bagaimanapun juga telah berkomitmen untuk mengajari para wanita dan belakangan menetapkan sebagai latihan untuk menjadikan wanita sebagai "isteri yang baik dan ibu yang bijaksana". Pemerintah secara jelas menetapkan bahwa sebagai bagian dari formasi karakter ini, Ikebana, yang pernah menjadi bentuk seni kaum lelaki sejak itu menjadi standar bagian pendidikan wanita. Keputusan ini mengembangkan dasar kelahiran kembali Ikebana dan juga, pada satu generasi, membuatnya melampaui kegiatan kaum lelaki dan terbuka bagi wanita walaupun pada saat itu wanita terlarang secara hukum untuk mengembangkan apapun Di akhir abad ke -19. ketika masyarakat mulai bercocok tanam ala barat, Ohara Unshin mempopulerkan gaya moribana yang digunakan untuk bunga-bunga dari barat dalam rangkaian Ikebana.

Dalam hal ini, Ikebana dan lingkup budayanya telah mewarnai sejarah jepang.
Di Indonesia , dikenal tujuh aliran ikebana.
Ikenobo, ohara, koryu, misho-ryu, sogetsu, ichiyo dan shofukadokai.
Shofukadokai Filosofi adalah aliran yang dimulai Shofu Ryu pada 1917 yang melimpahkan perasan lewat tanaman. Pada perkembangannya, limpahan perasaan tadi dipadukan dengan ide lain serta meningkatkan rasa seni lewat tanaman.


disarikan dari berbagai sumber.

Sekilas JLCC


BIaya kursus JLCC 2009

PROGRAM STUDI DI JLCC

Dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat, JLCC menyelenggarakan :

Kelas Reguler
Tingkat Dasar 1 (Shokyu Nihongo 1)
Tingkat Dasar 2 (Shokyu Nihongo 2)
Tingkat Dasar 3 (Shokyu Nihongo 3)
Tingkat Dasar 4 (Shokyu Nihongo 4)

Keterangan
setiap tingkat ditempuh dalam waktu 4 bulan
Jumlah pertemuan 1 minggu 2 x 90 menit
minimal 10 peserta / kelas

Kelas Lanjutan
Tingkat Lanjutan 1 (Chukyu Nihongo 1)
Tingkat Lanjutan 2 (Chukyu Nihongo 2)
Tingkat Lanjutan 3 (Chukyu Nihongo 3)

Keterangan
setiap tingkat ditempuh dalam waktu 4 bulan
jumlah peremuan 1 minggu 2 x 90 menit
Minimal 10 peserta / kelas

Kelas Intensive
Materi pengajaran, biaya pendaftaran & biaya Kursus kelas Intensive ini pada dasarnya sama dengan kelas reguler, hanya waktu pelaksanaan dipadatkan menjadi 2 bulan dengan jumlah pertemuna 4 x 1 minggu, masing masing pertemuan 90 menit

Kelas Percakapan (KAIWA)
Percakapan Dasar (KAIWA 1)
Percakapan Lanjutan (KAIWA 2)
Percakapan Lanjutan (KAIWA 3)

Keterangan
Setiap tingkat ditempuh dalam waktu 4 bulan
Jumlah pertemuan 1 mingu 2 x 90 menit
Minimal 5 peserta/kelas

Kelas Percakapan ini diperuntukan bagai siswa yang minimal sudah menyelesaikan Tingkat Dasar 3 (Shokyu Nihongo 3) atau setara dengan itu.

Selain paket paket program tersebut di atas, JLCC juga menyediakan beberapa paket lain seperti Kelas Private, Kelas Bahasa Indonesia untuk orang Jepang, menerima penerjemahan, menyediakan tenaga Interpreter dan lain lain.

Peta Lokasi JLCC

Peta Lokasi JLCC
JLCC Jl. Sabang No 19 Bandung

Japanese tea ceremony demo

Staff Pengajar JLCC

Staff Pengajar JLCC
Berdiri mulai dari kiri: Ade S Sensei, Herdis Sensei, Jonjon J Sensei, Yuyu Sensei, Sudjianto Sensei Duduk mulai dari kiri : Sisca Sensei, Halina Sensei , Aliawati Sensei, Miyanaga Sensei, Nina Sensei

Berdiri dari kiri ke kanan : Aliawati Sensei, Mariko Sensei, Halina Sensei, Nina Sensei, Sisca Sensei Duduk dari Kiri ke Kanan : Ade S Sensei, Yuyu Sensei, Jonjon J Sensei