Friday, March 4, 2011

Pengambilan Certificate Japanese Language Proficiency

Kepada rekan rekan yang telah mengikuti ujian JLPT yang diselenggarakan pada Desember 2010, dan mendaftarkannya di JLCC , Jl. Sabang 19 Bandung
Hasil Ujian atau certificate Japanese Language Proficiency sudah bisa di ambil dari hari senin s/d Jumat dari mulai jam 08.00 - 17.00 wib. mulai tanggal 7 Maret 2011

Silahkan menghubungi :
Bp. Dede & Bp. Fuad
tlp : 022-4201745

Monday, February 28, 2011

HINAMATSURI 雛祭り


Hinamatsuri 雛祭り 

Hinamatsuri yang juga dikenal sebagai festival boneka atau festival anak perempuan di rayakan setiap tangal 3 maret di Jepang. Ritual selamatan ini ditujukan bagi anak perempuan. Biasanya, keluarga yang memiliki anak perempuan akan memajang satu set boneka yang disebut hinaningyo ( 雛人形 ,boneka festival)

Satu set boneka terdiri dari boneka kaisar, permaisuri, puteri istana (dayang-dayang), dan pemusik istana yang menggambarkan upacara perkawinan tradisional di Jepang. Pakaian yang dikenakan boneka adalah kimono gaya zaman Heian. Perayaan ini sering disebut Festival Boneka atau Festival Anak Perempuan karena berawal permainan boneka di kalangan putri bangsawan yang disebut hiina asobi (bermain boneka puteri).

Ritual hinamatsuri ini menjadi acara keluarga di rumah, dan hanya dirayakan keluarga yang meiliki anak perempuan. Boneka-boneka akan dipajang seblum hari selamatan tiba dan sesudahnya, boneka arus segera disimpan karena dipercaya telah menyerap roh-roh jahat dan akan membawa nasib sial.


SUSUNAN BONEKA

Boneka diletakkan di atas panggung bertingkat yang disebut dankazari (tangga untuk memajang). Jumlah anak tangga pada dankazari ditentukan berdasarkan jumlah boneka yang ada. Masing-masing boneka diletakkan pada posisi yang sudah ditentukan berdasarkan tradisi turun temurun. Panggung dankazari diberi alas selimut tebal berwarna merah yang disebut hi-mōsen.
Satu set boneka biasanya dilengkapi dengan miniatur tirai lipat(byōbu) berwarna emas untuk dipasang sebagai latar belakang. Di sisi kiri dan kanan diletakkan sepasang miniatur lampion(bombori). Perlengkapan lain berupa miniatur pohon sakura dan pohon tachibana, potongan dahan bunga persik sebagai hiasan.


Tangga teratas
Dua boneka yang melambangkan kaisar (o-dairi-sama) dan permaisuri (o-hina-sama) diletakkan di tangga paling atas. Dalam bahasa Jepang, dairi berarti "istana kaisar", dan hina berarti "sang putri" atau "anak perempuan". Wilayah Kansai dan Kanto memiliki urutan kanan-kiri yang berbeda dalam penempatan boneka kaisar dan permaisuri, namun susunan boneka di setiap anak tangga berikutnya selalu sama.

Tangga kedua
Tiga boneka puteri istana (san-nin kanjo) diletakkan di tangga kedua. Ketiga puteri istana membawa peralatan minum sake. Boneka puteri istana yang paling tengah membawa mangkuk sake (sakazuki) yang diletakkan di atas sampō. Dua boneka puteri istana yang lain membawa poci sake (kuwae no chōshi), dan wadah sake yang disebut (nagae no chōshi). Gigi salah satu boneka puteri istana dihitamkan (ohaguro) dan alisnya dicukur habis. Dalam boneka versi Kyoto, puteri istana yang paling tengah dari Kyoto membawa shimadai (hiasan tanda kebahagiaan dari daun pinus, daun bambu, dan bunga ume).

Tangga ketiga
Lima boneka pemusik pria (go-nin bayashi) berada di tangga ketiga. Empat musisi masing-masing membawa alat musik, kecuali penyanyi yang membawa kipas lipat. Alat musik yang dibawa masing-masing pemusik adalah taiko, ōkawa, kotsuzumi, dan seruling.

Tangga keempat
Dua boneka menteri (daijin) yang terdiri dari Menteri Kanan (Udaijin) dan Menteri Kiri (Sadaijin) berada di tangga ke-4. Boneka Menteri Kanan digambarkan masih muda, sedangkan boneka Menteri Kiri tampak jauh lebih tua. Dari sudut pandang pengamat, Menteri Kanan berada di sebelah kiri, sedangkan Menteri Kiri berada di sebelah kanan.

Tangga kelima
Pada tangga kelima diletakkan tiga boneka pesuruh pria (shichō). Ketiganya masing-masing membawa bungkusan berisi topi (daigasa) yang dibawa dengan sebilah tongkat, sepatu yang diletakkan di atas sebuah nampan, dan payung panjang dalam keadaan tertutup. Dalam boneka versi lain, pesuruh pria membawa penggaruk dari bambu (kumade) dan sapu.Selanjutnya, kereta sapi dan berbagai miniatur mebel yang dijadikan hadiah pernikahan diletakkan di atas tangga-tangga di bawahnya


Tuesday, January 18, 2011

Edu Fair 2011










JLCC (Japanese Language & Culture Centre ) dan JECO (JLCC Education Consultant) Bandung berpartisipasi pada kegiatan “Education Fair 2011″ yang diselenggarakan oleh SMA Negeri 5 Bandung pada hari Kamis, 20 Januari 2011 mulai pukul 08:00 – 15:30 WIB bertempat di SMA Negeri 5 Bandung, Jalan Belitung No.8 Bandung, 40113.
Event Education Fair 2011 adalah wahana pertemuan antara perguruan tinggi dengan para siswa SMA untuk membantu para siswa memahami dan mengenal program studi yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya masing-masing, sebagai suatu bentuk kerjasama antara SMA Negeri 5 Bandung dengan sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta baik di dalam negeri maupun luar negeri, dan untuk mengetahui berbagai jenis program studi di setiap perguruan tinggi serta prospek kerja yang tersedia.
JLCC dan JECO yang bekerjasama dengan MANABI Japanese Language Institute hadir untuk memberikan informasi kursus Bahasa Jepang di Bandung dan sekolah Bahasa Jepang di Jepang dan melanjutkan sekolah ke Lembaga Pendidikan Tinggi dan Universitas di Jepang .





Wednesday, December 8, 2010

IKEBANA

Tidak ada yang tahu dari mana Ikebana berasal, tetapi diperkirakan ia masuk ke Jepang bersamaan dengan masuknya agama Buddha. Namun demikian ada juga kalangan yang mengatakan bahwa Ikebana suda ada di Jepang sebelum agama Buddha berkembang di sana, saat masyarakat Jepang masih menggunakan bunga dan tumbuhan segar untuk menghormati dewa penguasa alam, hal yang kelak menjadi inti dari ajaran Ikebana. Apapun kebenaran teori ini kedekatan hubungan masyarakat Jepang dengan alam jelas terlihat dalam tulisan-tulisan seputar Jepang di masa awal.

Rangkaian Ikebana diketahu sudah mulai tampak di masa Muromachi (akhir abad 14-pertengahan abad 16). Di masa tersebut, berbagai hal lahir dan dipandang sebagai seni tradisional Jepang dengan pakem-pakem keindahan tersendiri. Gaya shoin pada arsitektur tempat tinggal , upacara minum teh, Ikebana, pertunjukan Noh, desain taman dan puisi berirama yang semua berawal di masa Muromachi.

Namun demikian seluruhnya ini bukan budaya pop spontan. Daimyo dan shogun, penguasa feodal dan para jendral memberikan tanggung jawab dan teknik estetika kepada para doboshu(kelompok seniman). Beberapa doboshu berkonsentarasi pada kegiatan merangkai bunga serta melahirkan sebuah gaya dasar, yakni dahan yang berdiri di tengah vas dan dikenal dengan istilah tatebana. Sejak itu mulai bermunculan para master perangkai bunga. Ikenobo Senkei, seorang pendeta di Rokkakudo, Kyoto adalah seorang tokoh yang paling berpengaruh. Gaya Tatebananya dikembangkandan disebarluaskan oleh Ikenobo Senno dan Ikenobo Sen'e, diatara kelas samurai dan aristokratnya seiring dengan perkembangan seni upacara minum teh yang membutuhkan keseriusan. Sejak periode Azuchi Momoyama hingga periode Edo, Ikebana merupakan seni hidup yang berubah sesuai waktu di sisi baik maupun buruknya.

Pada periode Edo, Ikebana diwujudkan dalam bentuk yang paling serius, Senno Rikkyu mengaplikasikan Tatebana yang menjadi gaya Ikenobo dalam Chabana (rangkaian bunga sederhana untuk ruang teh)yang melompat dari kelas tentara samurai warior ke kelas pedagang dan masyakarat kota dan merubahnamanya menjadi Rikka. Namun pada perkembanganya, semangat kreatifitas Rikka semakin pudar dan efek geometrisnya hilang dalam dekoratif, menjadi simbol gaya berkelas Seika atau Shoka. Seika didasarkan pada struktur kerja tria-ngular, ten-chi-jin, jo-ha-kyu atau sin-gyo-so; yang merupakan cara berbeda dari ungkapan surga bumi manusia. Banyak sekolah baru dibuka untuk mengajarkan gaya baru Seika dan sistem lemoto pun dimulai.

Seiring dengan periode modernisasi Meiji, Ikebana turut dimanfaatkan. Pemerintah Meiji, bagaimanapun juga telah berkomitmen untuk mengajari para wanita dan belakangan menetapkan sebagai latihan untuk menjadikan wanita sebagai "isteri yang baik dan ibu yang bijaksana". Pemerintah secara jelas menetapkan bahwa sebagai bagian dari formasi karakter ini, Ikebana, yang pernah menjadi bentuk seni kaum lelaki sejak itu menjadi standar bagian pendidikan wanita. Keputusan ini mengembangkan dasar kelahiran kembali Ikebana dan juga, pada satu generasi, membuatnya melampaui kegiatan kaum lelaki dan terbuka bagi wanita walaupun pada saat itu wanita terlarang secara hukum untuk mengembangkan apapun Di akhir abad ke -19. ketika masyarakat mulai bercocok tanam ala barat, Ohara Unshin mempopulerkan gaya moribana yang digunakan untuk bunga-bunga dari barat dalam rangkaian Ikebana.

Dalam hal ini, Ikebana dan lingkup budayanya telah mewarnai sejarah jepang.
Di Indonesia , dikenal tujuh aliran ikebana.
Ikenobo, ohara, koryu, misho-ryu, sogetsu, ichiyo dan shofukadokai.
Shofukadokai Filosofi adalah aliran yang dimulai Shofu Ryu pada 1917 yang melimpahkan perasan lewat tanaman. Pada perkembangannya, limpahan perasaan tadi dipadukan dengan ide lain serta meningkatkan rasa seni lewat tanaman.


disarikan dari berbagai sumber.

Thursday, November 4, 2010

Kartu Ujian NS tahun 2010 sudah bisa dia ambil di JLCC

Bagi rekan rekan yang mendaftar ujian N/S Di JLCC Jl. Sabang No 19 Bandung
Kartu JLPT / N.S 2010 sudah dapat diambil di JLCC mulai hari Jum'at tgl 29 oktober 2010 ..jangan lupa bawa kwitansi pendaftarannya ,,^_^ ありがとう ございます

informasi hubungi :
Fuad / Dede
JLCC
Jl. Sabang No 19 telp 022-4201745

Wednesday, November 3, 2010

Pakaian Tradisional Jepang Yukata

Yukata adalah jenis kimono nonformal Jepang yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Secara harfiah istilah Yukata berarti: baju sesudah mandi. Dipakai untuk kesempatan santai di musim panas (natsu). Yukata dibuat dari bahan katun yang mudah dilewati angin, agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudah mandi malam dengan air panas di Jepang.
Istilah Yukata ini lahir sejak sekitar zaman Azuchi-Momoyama. Bermula dari pakaian yang dipakai sesudah mandi yang disebut Yukatabira. Di zaman Edo, Yukatabira menjadi sangat populer di kalangan rakyat dan namanya disingkat menjadi Yukata saja. Pada zaman dahulu, memakai Yukata untuk bertemu dengan orang lain dianggap sangat tidak sopan, mengingat fungsi Yukata yang cuma sebagai pakaian tidur. Namun sekarang, Yukata dapat dikenakan kapanpun atau saat pergi kemanapun. Malah pakaian ini menjadi pakaian utama yang dikenakan saat melihat Hanabi Matsuri (Festival kembang api). Jika terlihat banyak perempuan memakai Yukata di musim panas (natsu), berarti tidak jauh dari tempat itu ada festival kembang api.
Yukata umumnya dibuat dari kain katun walaupun sekarang banyak yang dibuat dari bahan campuran, misalnya katun bercampur polyester. Yukata untuk laki-laki biasanya terbuat dari bahan dengan warna dasar gelap (seperti hitam, biru tua, ungu tua) dengan corak garis-garis warna gelap. Sedangkan Yukata untuk wanita biasanya terbuat dari bahan dengan warna dasar cerah atau warna pastel dengan corak beraneka warna yang cerah. Corak-corak kain yang populer untuk Yukata wanita adalah bunga Sakura, bunga Krisan, Poppy, bunga-bunga yang mekar di musim panas


Perbedaan Kimono dan Yukata:

  1. Berbeda dengan Kimono yang sering disebut orang Jepang sebagai Gofuku atau Wafuku dan hanya dipakai pada kesempatan formal, Yukata dipakai untuk kesempatan santai seperti: berjalan-jalan melihat pesta kembang api, melihat festival musim panas (matsuri), atau menari di saat perayaan Obon (festival menyambut arwah).
  2. Kimono yang harganya sangat mahal hingga luar biasa mahal, harga Yukata umumnya terjangkau oleh semua orang.
  3. Kimono jadi yang hampir-hampir tidak ada toko yang mau menjualnya, di toko pakaian banyak dijual Yukata yang sudah jadi dengan beraneka ukuran dengan harga terjangkau
  4. Kimono yang menurut ukuran lebar lengannya dapat diketahui status seorang wanita (sudah menikah atau masih gadis), Yukata dapat dipakai oleh siapa saja tanpa mengenal status.

Kimono yang pemakainya diwajibkan memakai pakaian dalam sebanyak 2 lapis (Hadajuban dan Juban), perempuan yang memakai Yukata hanya diharuskan pakaian dalam lapis pertama (Hadajuban).

Sama halnya dengan Kimono, agar Yukata terlihat bagus sewaktu dipakai, maka yang dipakai haruslah Yukata yang sesuai ukuran badan si pemakai. Jika Yukata yang anda kenakan ingin terlihat bagus dan pas di badan, Yukata yang anda kenakan haruslah Yukata yang dijahit sesuai dengan ukuran badan anda (order made).

Urutan agar pemakaian Yukata tampak bagus dan rapi:

  1. Jika ingin mengenakan Yukata secara benar, dianjurkan untuk mengenakan Susoyoke, yakni berupa rok dalam panjang yang bisa berwarna putih polos atau bercorak dengan warna cerah. Jika tidak mau memakai atau tidak mempunyai Susoyoke juga tidak apa-apa.
  2. Memakai pakaian dalam yang disebut Hadajuban dan mengencangkan tali pengikatnya.
  3. Memakai Yukata. Panjang Yukata selalu melebihi panjang yang dibutuhkan si pemakai sehingga kain Yukata yang panjangnya berlebih harus diangkat sedikit ke bagian pinggang dan dikencangkan dengan menggunakan Koshihimo (sabuk pinggang dari kain)
  4. Merapikan Bagian-bagian Yukata yang sedikit longgar di badan ke arah perut dan
    mengencangkannya dengan kain sabuk pengikat yang disebut Datejime
  5. Mengencangkan Yukata dengan melilitkan dan mengikatkan Obi.

Obi adalah kain yang dililitkan di pinggang, yang panjangnya sekitar 4 sampai 5 meter. Lebar Obi yang digunakan untuk Yukata adalah setengah dari lebar Obi yang digunakan untuk memakai Kimono. Ada banyak jenis simpul yang digunakan untuk pada saat mengikat Obi. Simpul Obi yang paling populer adalah simpul Bunko yang berbentuk seperti kupu-kupu. Jika belum dapat membuat simpul Obi sendiri, anda dapat membeli simpul Obi yang sudah jadi di toko dan tinggal menyisipkannya ke dalam Obi anda.
Yukata juga digunakan oleh aktor Kabuki di saat bermake-up atau peran yang mengharuskan aktor Kabuki memakai Yukata. Pegulat Sumo juga memakai Yukata sebelum dan sesudah bertanding. Begitupula penari tradisional Jepang (Nihon Buyou) mengenakan Yukata sebagai pengganti Kimono sewaktu belajar menari agar Kimono yang harganya mahal tidak menjadi basah karena keringat. Saat ini, toko-toko di Jepang sudah mulai terlihat memajang beberapa Yukata dengan aneka corak warna dengan harga terjangkau. Tanda musim panas segera tiba.

Wednesday, October 20, 2010

Konsultasi Studi di Jepang Gratis!


Informasi buat rekan rekan sekalian yang berminat untuk melanjutkan studi di Jepang, atau belajar bahasa Jepang di negaranya yaitu JEPANG, ada informasi bahwa pada tanggal 13 November 2010, bertempat di JLCC (Japanese Language & Culture Centre ) Bandung akan diadakan konsultasi gratis untuk studi ke Jepang, mulai jam 10 pagi sampai dengan selesai.


Untuk pendaftaran Konsultasi dan informasi hubungi :

JLCC (Japanese Language & Culture Centre) Bandung

Jl. Sabang No 19 Bandung, Telp 022-4201745

Ikhsan 081322734245

Sekilas JLCC


BIaya kursus JLCC 2009

PROGRAM STUDI DI JLCC

Dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat, JLCC menyelenggarakan :

Kelas Reguler
Tingkat Dasar 1 (Shokyu Nihongo 1)
Tingkat Dasar 2 (Shokyu Nihongo 2)
Tingkat Dasar 3 (Shokyu Nihongo 3)
Tingkat Dasar 4 (Shokyu Nihongo 4)

Keterangan
setiap tingkat ditempuh dalam waktu 4 bulan
Jumlah pertemuan 1 minggu 2 x 90 menit
minimal 10 peserta / kelas

Kelas Lanjutan
Tingkat Lanjutan 1 (Chukyu Nihongo 1)
Tingkat Lanjutan 2 (Chukyu Nihongo 2)
Tingkat Lanjutan 3 (Chukyu Nihongo 3)

Keterangan
setiap tingkat ditempuh dalam waktu 4 bulan
jumlah peremuan 1 minggu 2 x 90 menit
Minimal 10 peserta / kelas

Kelas Intensive
Materi pengajaran, biaya pendaftaran & biaya Kursus kelas Intensive ini pada dasarnya sama dengan kelas reguler, hanya waktu pelaksanaan dipadatkan menjadi 2 bulan dengan jumlah pertemuna 4 x 1 minggu, masing masing pertemuan 90 menit

Kelas Percakapan (KAIWA)
Percakapan Dasar (KAIWA 1)
Percakapan Lanjutan (KAIWA 2)
Percakapan Lanjutan (KAIWA 3)

Keterangan
Setiap tingkat ditempuh dalam waktu 4 bulan
Jumlah pertemuan 1 mingu 2 x 90 menit
Minimal 5 peserta/kelas

Kelas Percakapan ini diperuntukan bagai siswa yang minimal sudah menyelesaikan Tingkat Dasar 3 (Shokyu Nihongo 3) atau setara dengan itu.

Selain paket paket program tersebut di atas, JLCC juga menyediakan beberapa paket lain seperti Kelas Private, Kelas Bahasa Indonesia untuk orang Jepang, menerima penerjemahan, menyediakan tenaga Interpreter dan lain lain.

Peta Lokasi JLCC

Peta Lokasi JLCC
JLCC Jl. Sabang No 19 Bandung

Japanese tea ceremony demo

Staff Pengajar JLCC

Staff Pengajar JLCC
Berdiri mulai dari kiri: Ade S Sensei, Herdis Sensei, Jonjon J Sensei, Yuyu Sensei, Sudjianto Sensei Duduk mulai dari kiri : Sisca Sensei, Halina Sensei , Aliawati Sensei, Miyanaga Sensei, Nina Sensei

Berdiri dari kiri ke kanan : Aliawati Sensei, Mariko Sensei, Halina Sensei, Nina Sensei, Sisca Sensei Duduk dari Kiri ke Kanan : Ade S Sensei, Yuyu Sensei, Jonjon J Sensei